RAHMA SABIRIN, AINUN (2026) “KEWAJIBAN” MASSIARA KIBBURU’ SEBELUM DAN SESUDAH PERKAWINAN PERSPEKTIF ‘URF DAN MASLAHAH DI KABUPATEN WAJO. Sarjana thesis, IAIN PAREPARE.

[thumbnail of Full Teks] Text (Full Teks)
2220203874230013.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (6MB)

Abstract

Ainun Rahma Sabirin. Kewajiban Massiara Kibburu’ Sebelum dan Sesudah Perkawinan Perspektif ‘Urf dan Maslahah di Kabupaten Wajo, dibimbing oleh (Hj. Nurdalia Bate). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tradisi massiara kibburu’ yang dilaksanakan masyarakat Kabupaten Wajo sebelum dan sesudah perkawinan serta dipahami oleh sebagian masyarakat sebagai suatu "kewajiban". Berbagai penelitian sebelumnya umumnya mengkaji tradisi ziarah kubur sebagai praktik budaya atau meninjaunya dari perspektif hukum Islam secara umum, namun belum banyak yang mengkaji pergeseran pemaknaan tradisi massiara kibburu’ sebagai "kewajiban" sosial serta menganalisisnya secara komprehensif menggunakan perspektif ‘urf dan maslahah. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada praktik pelaksanaan, makna filosofis "kewajiban", serta analisis ‘urf dan maslahah terhadap tradisi massiara kibburu’ di Kabupaten Wajo. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat Kabupaten Wajo. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan menggunakan teori ‘urf dan maslahah sebagai pisau analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, praktik massiara kibburu’ dilaksanakan melalui kegiatan yang meliputi berwudhu, mengucapkan salam, menyiram makam, membaca Al-Qur’an, dan mendoakan ahli kubur. Kedua, makna “kewajiban” dalam tradisi ini dipahami sebagai kewajiban adat dan moral yang lahir dari penghormatan kepada orang tua dan leluhur serta dorongan menjaga hubungan kekeluargaan, bukan sebagai kewajiban syar‘i. Ketiga, dalam perspektif ‘urf, tradisi ini termasuk ‘urf fi‘li, ‘urf ‘am, dan ‘urf shahih karena telah menjadi kebiasaan yang diterima masyarakat dan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Keempat, dalam perspektif maslahah, tradisi ini mengandung kemaslahatan berupa penguatan nilai keagamaan, penghormatan kepada leluhur, penguatan silaturahmi, dan assisumpungeng (persaudaraan), sehingga dapat dipertahankan selama tidak diyakini sebagai kewajiban syariat dan tidak mengandung unsur kemusyrikan. Oleh karena itu, masyarakat perlu mempertahankan nilai-nilai positif dalam tradisi massiara kibburu’ dengan tetap memahami bahwa tradisi tersebut merupakan kewajiban adat dan moral, bukan kewajiban syar‘i.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Uncontrolled Keywords: Massiara Kibburu', Kewajiban, 'Urf, Maslahah, Perkawinan.
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012829 Islamic Family Issues & Local Tradition
Divisions: Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Islam > Program Studi Hukum Keluarga Islam
Depositing User: evi muhartini tahir
Date Deposited: 23 Sep 2026 07:41
Last Modified: 23 Sep 2026 07:41
URI: https://repository.iainpare.ac.id/id/eprint/12897

Actions (login required)

View Item View Item