Akulturasi Budaya Islam dan Tradisi Sayyang Pattu’du di Desa Lero, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang

Multazam, Multazam (2019) Akulturasi Budaya Islam dan Tradisi Sayyang Pattu’du di Desa Lero, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang. Undergraduate thesis, IAIN Parepare.

[img]
Preview
Text (Full text)
14.1400.009.pdf - Accepted Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (8MB) | Preview

Abstract

INDONESIA :

Tradisi sayyang pattu’du merupakan budaya leluhur Mandar yang juga dilaksanakan di desa Lero sebagai bentuk penghargaan atau hadiah kepada anak yang khatam Al-Qur’an dengan diarak keliling kampung menggunakan kuda menari atau sayyang pattu’du, pelaksanaannya dua tahun sekali yang dirangkaikan dengan maulid Nabi Muhammad SAW setiap bulan rabiul awal. Tradisi ini merupakan akulturasi antara budaya Islam dengan budaya leluhur Mandar dan tradisi sayyang pattu’du menjadi motivasi untuk anak-anak agar segera khatam Al-Qur’an. Tujuan peneliti yaitu dapat mengetahui awal munculnya tradisi sayyang pattu’du, serta bentu akuturasi antara budaya Islam dengan tradisi sayyang pattu’du, shingga dari proses akulturasi ini menghasilkan unsur-unsur Islam dalam tradisi sayyang pattu’du di desa Lero. Selain itu, dapat mengetahui tata cara pelaksanaan tradisi sayyang pattu’du di desa Lero yang melalui beberapa tahap prosesi.

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan melalui pendekatan sejarah, sosiologi, antropologi dan agama. Kemudian menggunakan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi dan teknik analisis data yang telah diperoleh dari masyarakat desa Lero, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: awal munculnya tradisi sayyang pattu’du pada saat mulai masuknya Islam di tanah Mandar pada masa pemerintahan kerajaan Balanipa yaitu raja ke empat Daetta tommuane, yang dibawah oleh para mubalig. Kemudian dikembangkan oleh K.H Muhammad Tahir Imam Lapeo, sehingga tradisi inipun dilaksanakan sampai di desa Lero karena mayoritas penduduknya adalah suku Mandar. Di desa Lero pelaksananaan tradisi sayyang pattu’du dilaksanakan dua tahun sekali yang dirangkaikan dengan maulid Nabi Muhammad SAW. Pada masyarakat Lero bagi masyarakat yang anaknya ikut serta dalam pelaksanaannya harus melalui beberapa tahap yaitu pertama mempersiapkan hal-hal yang diperlukan, ma’barasanji, marrattas baca dan parrawana. Tradisi ini merupakan bentuk akulturasi budaya Islam dan budaya nenek moyang leluhur Mandar, sehingga menghasilkan unsur-unsur Islam di dalamnya. Adapun unsur-unsur Islam yang terkandung dalam tradisi sayyang pattu’du adalah khatam Al-Qur’an, maulid Nabi Muhammad SAW, pembacaan barzanji, pakean adat Mandar, kesenian Mandar (rawana dan kalinda’da), memotivasi orang lain, dan silaturahmi

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Divisions: Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah > Program Studi Sejarah Peradaban Islam
Depositing User: Subhan Saleh
Date Deposited: 26 Aug 2019 22:38
Last Modified: 26 Aug 2019 22:38
URI: http://repository.iainpare.ac.id/id/eprint/651

Actions (login required)

View Item View Item